Cerita Perjalanan Menjemput Rezeki dan Edukasi Melalui “Re-Kreasi”

14

Setahun sudah, tak terasa aku terjun basah. Berproses dalam pembuatan ilustrasi buku cerita anak di bawah asuhan Room to Read dan Provisi Education. Walaupun memerlukan proses cukup lama, berhadapan dengan revisi, revisi, dan revisi. Pada akhirnya aku merasa lega karena buku anak itu selesai sesuai waktunya dan dipamerkan di acara International Children Right Fair (ICCRF) Thailand tahun 2018.

Terima kasihku seribu kepada mereka yang membuatku berkontribusi melalui karya. Kuabadikan setiap peristiwa yang bermakna melalui cerita.

Desain Karater 3 Dimensi dari Clay

Pengalamanku ini bermula saat sedang asyik bermain instagram. Secara tidak sengaja aku menemukan pengumuman workshop gratis yang diadakan oleh Provisi Education dan Room to Read. Workshop bertajuk pembuatan buku anak cycle III itu ditujukan bagi penulis dan ilustrator di seluruh Nusantara yang rencananya akan diadakan dipertengahan Januari 2018 di Bali. Syarat mengikutinya adalah dengan mengirim portofolio baik tulisan atau ilustrasi serta kesanggupan mengikuti workshop selama seminggu. Bagi mereka yang terpilih akan ada kesempatan bekerjasama dengan pelbagai penerbit untuk membuat buku anak yang berkualitas.

Workshop itu akan jadi pengalaman yang berharga bagiku jika aku lolos seleksi. Karena aku belum memiliki banyak pengalaman dalam pembuatan ilustrasi buku anak. Aku hanya belajar secara otodidak membuat desain atau gambar kartun-kartun lucu yang kubisa melalui media digital. Jadi aku kirimkan portofolio seadanya yang aku punya dengan penuh harap. Kira-kira sebulan aku kirimkan portofolioku sebelum batas tanggal yang sudah ditentukan.

Tepat pada hari pengumuman, aku menggali informasi hasil seleksi workshop tersebut. Tapi ternyata pengumuman hasil seleksi ditunda bulan depan. Jadi aku harus bersabar menunggu selama sebulan lagi.

Terlalu berharap akan membuat kecewa. Tapi itu tidak berlaku bagi jiwa yang pasrah.

Seiring waktu berjalan, aku rupanya sudah agak lupa akan hasil pengumuman. Namun, beberapa hari sebelum pengumuman, tiba-tiba saja aku dapat telepon dari seseorang. Ia mengaku bernama Momo dari pihak Provisi Education. Dia bilang kepadaku bahwa aku lolos seleksi dan diminta mempersiapkan ide karya yang berhubungan dengan “gong”. Selain itu aku diminta mempersiapkan sarana transportasi apa yang diinginkan untuk bisa berangkat ke Bali. Karena seluruh biaya transportasi akan ditanggung oleh penyelenggara.

Aku menjawab sedikit terbata-bata karena terkejut. Isi hatiku terasa campur aduk begitu juga isi kepalaku. Setelah telepon berakhir, aku sudah membayangkan liburan di Bali, tiduran di kursi malas, menatap sunrise sambil minum air kelapa, aku jadi tak bisa membedakan antara workshop dengan liburan. Tepat hari pengumuman, namaku pun muncul di pelbagai media milik Provisi Education beserta 19 ilustrator lainnya dari berbagai wilayah.

Bersyukur dalam buruknya peristiwa itu mahal harganya. Namun jika kau mampu membayarnya, hamdalah yang sempurna akan mencukupi semesta jiwa.

Perjalanan ke Bali bukan kali pertama bagiku, tetapi di hari waktu pemberangkatan kesana aku mengalami kesialan. Pesawatku delay cukup lama dan koperku tertinggal beserta koper milik penumpang lainnya karena ada kesalahan dari pihak manajemen penerbangan. Seharusnya aku bisa tiba di hotel sore hari jika perjalanan lancar, menikmati waktu sore, menyiapkan mood dan energi untuk materi workshop di hari esoknya. Tapi ternyata aku tiba di hotel malam hari dan koperku baru bisa diambil esok harinya. Aku jadi dongkol malam itu.

Kolam Renang Swissbel Resort, Watu JImbar Bali
Kolam Renang Swissbel Resort, Watu JImbar Bali

Hotel tempatku menginap tergolong mewah, Swiss Belresort Watu Jimbar. Kira-kira biaya sewa kamar per malam cukup buat biaya kos selama dua bulan di kotaku, Malang. Kamarku juga besar untuk dua orang, per-orang kasurnya double bed, aku rasa cukup kamarku ini untuk dua couple pengantin baru. Kamar mandinya dilengkapi bathup, tapi sayang aku tidak suka toiletnya, aku terbiasa toilet jongkok dan air. Tapi di kamarku adanya toilet duduk lengkap sama tisu dan telepon. Sempat gagal paham juga kenapa ada telepon di situ.

Aku sekamar dengan orang asal Palembang. Orangnya lucu, penyuka gaya dan budaya Korea. Dia penggemar k-popers yang fanatik sekaligus toleran. Aku belajar banyak soal penampilan dan humor-humor renyah darinya. Cocok banget sebenarnya jika dia jadi pembawa acara suatu pesta atau host acara televisi. Kacamataku tidak mendeteksi kalau dia orang yang mahir membuat ilustrasi.

Panitia penyelenggara workshop dari Provisi Education bekerja luar biasa. Acara selama seminggu itu ditangani oleh dua orang yaitu kak Rina dan kak Moemoe yang pernah meneleponku. Pengisi materinya adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya. Beberapa mentor adalah dosen DKV dari ITB dan Om Alfredo ahli literasi anak dari Room to Read asal Thailand.

Goodyback dari Workshop Provisi Education
Goodyback dari Workshop Provisi Education Cycle III

Hari pertama workshop isinya perkenalan, pembelajaran tentang karakter anak, dan pembagian 20 naskah cerita untuk 20 ilustrator. Para ilustrator ditugasi meggambar karakter sesuai dengan naskah yang sudah diberikan. Kemudian mengembangkannya dalam bentuk tiga dimensi dengan clay. Aku satu tim bersama teman sekamarku ditambah empat ilustrator dan dua editor dari penerbit Kanisius, jadi totalnya ada delapan. Para ilustrator dibekali goodyback yang isinya alat gambar lengkap, mulai dari pensil warna, clay,buku gambar, cat air, kuas, dan macam-macam.

Ilustrator lain juga didamping editor dari berbeda penerbit seperti BIP, Litara, Noura, dan Bestari. Kami saling berkenalan. Sebagian dari mereka ternyata sudah ada yang saling kenal. Kebanyakan semua ilustrator mempunyai latar belakang akademis yang relevan dengan workshop ini. Barangkali hanya aku saja yang yang tidak relevan.

Kadang orang yang tak terduga dapat melakukan sesuatu diluar dugaan.

Sebenarnya gambarku terbilang cukup lumayan di kampungku. Sehingga aku tak menduga kalau dalamnya air tak bisa diukur dari permukaan. Misalnya saja teman sekamarku ini, yang baru lulus sarjana jurusan DKV di ITB. Aku sungguh tak mengira goresan pensilnya begitu rapi dan halus seperti terlatih bertahun-tahun. Aku sampai sempat membayangkan kalau tangannya dilatih keras di kuil Shaolin seperti di film-film. Tangannya seolah memiliki akurasi tinggi sehingga jarang sekali dia mengoreksi goresannya dengan penghapus. Begitu juga teman se-timku yang lain.

Aku sempat kurang percaya diri dengan karyaku sendiri karena aku mendapat naskah yang sulit. Naskah yang aku ilustrasikan ini mengangkat tema alat musik tradisional yaitu gong. Pada studi pembuatan karakter cerita anak, hanya karyaku yang bukan makhluk melainkan benda. Bayangkan! Aku diminta mengilustrasikan bentuk gong yang relevan dengan dunia anak.

Presentasi Karakter Anak 3 Dimensi dan 2 Dimensi
Presentasi Karakter Anak 3 Dimensi dan 2 Dimensi

Hari kedua dan ketiga sudah masuk serius-seriusnya materi. Para ilustrator ditugaskan mengimajinasikan naskah cerita secara mendalam. Imajinasi tersebut kemudian dituangkan dalam skesta kasar mulai dari halaman awal hingga akhir atau disebut storyboard. Kemudian mendetailkan salah satu halaman dari storyboard tersebut. Setelah semua sketsa jadi, para ilustrastor mempresentasikan hasil karyanya kepada para ahli untuk dimintai pendapat. Waktu presentasi inilah banyak ilustrator yang merasa deg-deg an karena hasil karya akan dikoreksi dan diberi masukan oleh para ahli. Cukup banyak juga dapat revisi terutama punyaku.

Pembuatan ilustrasi - Workshop Provisi Education Cycle III
Pembuatan ilustrasi – Workshop Provisi Education Cycle III

Hari keempat materi workshop berisi tentang teori pewarnaan yang kemudian dipraktekan langsung oleh tiap-tiap ilustrator. Aku masih disibukan dengan membenahi gambar sketsa karena cukup banyak revisi. Belum juga sampai tahap mewarnai. Motivasi terselubungku untuk liburan nyaris sirna. Untungnya di hari itu banyak diberikan kelonggaran waktu. Sehingga aku dan teman sekamarku masih memiliki kesempatan menyusuri sudut-sudut hotel dan melanjutkan sisa-sisa ilustrasi.

Hari kelima semua ilustrator mempelajari seluk beluk pembuatan kaver buku yang menarik. Semua isi buku diringkas menjadi satu halaman ilustrasi yang mewakili. Cukup sulit juga membuat membuat kaver buku yang berkualitas. Sehingga tidak sedikit para ilustrator saling berbagi pendapat dan ide.

Ini Gong bukan Tong

Hari keenam workshop semua peserta saling berdiskusi, evaluasi, dan revisi hasil ilustrasi. Hari itu juga jadi hari terakhirku di Bali. Rasanya cepat sekali. Sebelum pulang kami bersama tim menyempatkan diri menikmati waktu bersama, saling berbagi inspirasi, foto-foto selfie, menikmati gelato sambil jalan-jalan. Karena waktu yang tak banyak, aku jadi tak sempat main air di bathup kamar mandi.

Seluruh kegiatan ini adalah edukasi sekaligus rekreasi yang menyegarkan bagi seniman ilustrasi. Ilustrator banyak belajar dari setiap revisi, revisi, dan revisi agar tercipta kreasi yang bernilai tinggi. Tentunya itu semua berkat bimbingan dari para ahli dan pihak penyelenggara yang murah hati. Aku berharap bisa ikut lagi.

Tapi perjuangan belum berhenti sampai di sini.

Pameran buku ilustrasi anak ICCRF 2018
Hasil akhir buku yang dipamerkan di ICCRF Thailand 2018

Setelah workshop, ilustrator masih ada tugas yaitu melanjutkan ilustrasi yang belum selesai selama tiga bulan. Setelah itu dibuat buku cerita anak versi dummy dan diuji cobakan (field-testing) kepada anak-anak. Hasil field-testing dijadikan bahan evaluasi oleh editor dan diadakan mentoring bagi ilustrator di kota Bandung selama dua hari. Setelah itu ilustrator melakukan revisi lagi selama beberapa bulan hingga menjadi buku siap terbit dan dipamerkan di bulan Desember 2018.

14 COMMENTS

  1. Ada yang typpo, ‘perjuangan’.
    Tulisan yang menginspirasi banget, Kak. Karena dari kacamata kita melihatnya begini, tapi ternyata begitu. Nggak relevan soal jurusan, sih, sekarang sudah menjadi hal yang lumrah. Apalagi dengan kemauan keras dan didukung bakat yang terasah jam terbang.
    Semangat, Kak! Nabung buat bikin buku ilustrasi lagi, nabung buat nikah juga. Hahha

    • Wahh iya Finn, baru tahu. Makasi ya….
      Iya tapi pas waktu itu situasinya relevan Finn. Karena para pesertanya banyak yang udah kenal, dari jurusan yang sama atau memper-memper (desain dan seni).

      Siappp Finn, ini nabung doa juga supaya jodoh makin menampakkan diri. hhahaahah

  2. Aku suka gaya bahasanya mas. Justru itu jadi poin plus karena mas terus berjuang dengan passion, terlepas dari apapun latar belakang akademis mas! Semoga bisa terus berkarya

  3. Keren mas Aira, jadi seorang ilustrator atau editing gambar itu susah memang, apalagi kalau nggak sesuai sama permintaan pelanggan biasanya ganti lagi sampai sesuai.. hehe
    Semangat mas

  4. Kereeeeeeeeeeeeeen…. berasa aku ikut disana selama baca tulisanmu. Mengalir indah begitu saja. Meski gak jadi berjemur tapi banyak dapat ilmu ya. MasyaAllah… sukses sukses suksesssssssss…..

  5. Wih, kereeeeeeeeeeeeeen…. berasa aku ikut disana selama baca tulisanmu. Mengalir indah begitu saja. Meski gak jadi berjemur tapi banyak dapat ilmu ya. MasyaAllah… sukses sukses suksesssssssss…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here